Showing posts with label bisnis. Show all posts
Showing posts with label bisnis. Show all posts

Thursday, January 30, 2014

Bangun Bisnis Sepatu Berawal dari Mulut ke Mulut

Memperkenalkan produk dan membangun bisnis tidak melulu dengan cara-cara modern. Tapi, cara-cara konvensional, seperti dari mulut ke mulut dan mengikuti pameran, juga bisa mempromosikan produk ke masyarakat. Seperti bisnis kerajinan sepatu yang dikembangkan oleh Lianna Gunawan.

Pengusaha sepatu, Lianna Gunawan, tidak menyangka sama sekali. Pemasaran sepatu yang berawal dari mulut ke mulut bisa menjadi usaha yang mapan. Ia memasarkan sepatunya itu ke saudara dan teman-teman.


Demi memperluas pasar, ia mengandalkan jejaring dunia maya, seperti Facebook, Twitter, dan BlackBerry Messenger, untuk mempromosikan scpatu-sepahi buatannya. Pasar alas kakinya semakin terbuka luas. Agar semakin dikenal masyarakat, ia juga mengikuti berbagai pameran hasil kerajinan dan wirausaha.

Menurut perempuan kelahiran Semarang itu, ia membuat sepatu berdasarkan pengalaman sebagai seorang perempuan yang gemar memakai sepatu bagus. Sejak remaja, ia telah memiliki hobi mengoleksi ratusan sepatu. Dari situlah saya membuat sepatu yang modis tapi juga nyaman dan enak dipakai, ujar Lianna Gunawan kepada Berita Kota, beberapa waktu lalu.

Sebulan yang lalu. Lianna Gunawan, mengikuti pameran Inacraft 2011 di Jakarta Convention Center, Senayan,Jakarta Pusat. Di tempat itu, untuk pertama kalinya, ia mengikuti pameran kerajinan terbesar di Asia Tenggara. Kepersertaannya di pameran itu tanpa biaya alias gratis dan mendapat fasilitas dari Kementerian Perdagangan. Ia pun mengeruk keuntungan yang memenuhi kantongnya. Ini pameran pertama kami di Inacraftsekaligus kesempatan untuk launching merek sepatu kami, yakni La Spina. Kami tidak menyangka mendapat sambutan luar biasa. Hampir semua produk yang dipersiapkan untuk Inacraft 2011 ludes dibeli pengunjung," ujar Lianna Gunawan.

Saat itu, ia ditemui Berita Kota di sebuah mal di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Perempuan itu menyatakan, dalam pameran lima hari itu, dia berhasil menjual lebih dari 200 pasang sepatu wanita.

Pembeli lokal maupun asing, katanya, tertarik dengan produk sepatu yang terbilang unik itu. Kalau biasanya batik digunakan untuk membuat baju, tapi di tangan Lianna batik Garut diaplikasikan untuk membuat aneka sepatu wanita.

Modal Rp I juta

Sebelum menjadi pengusaha, Lianna bekerja sebagai seorang ibu rumah tangga. Ia perempuan yang senang memakai sepatu cantik yang nyaman dan trendi. Tapi, ia juga ingin membangun bisnis berdasarkan hobinya mengoleksi sepatu.

Ia pun membangun usaha kerajinan sepatu wanita sekitar dua tahun. Usahanya itu dimulai pada November 2009 dengan modal hanya Rp 1 juta. Istri Hendra ini hanya membuat sepatu bila ada pesanan saja. Awalnya, pemesannya terbatas pada teman-teman dan saudaranya. Desain sepatu juga dibuat oleh Lianna. Lalu, ia menyerahkan pembuatan sepatunya diserahkan ke perajin.

Saat ini, untuk pemasaran produknya, Lianna memanfaatkan internet. Pasarnya, ia belum memiliki toko untuk menjajakan sepatunya. "Dari dulu, modal saya laptop. Tapi, sebelum bisnis, saya sudah punya laptop. Jadi, ini benar-benar usaha yang low investment, investasi rendah sehingga semua ibu-ibu rumah tangga bisa melakukan," ujar Lianna, sarjana marketing lulusan The University New South Wales (UNSW), Sydney, Australia.

Hanya dalam hitungan bulan, nama Lianna sebagai penjual sepatu sudah dikenal luas. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk membangun kepercayaan konsumen dan membangun merek. "Di situ saya merasakan betapa besarnya kekuatan jejaring sosial. Terus terang, saya besar dari

Facebook, kata Lianna.

Kini, pembeli sepatu tidak terbatas dari keluarga dan teman dekat. Pembelinya sudah mencapai berbagai pelosok Indonesia, Riau, sejumlah daerah di Kalimantan hingga Papua.

Meski demikian, memasarkan sepatu lewat Facebook juga memiliki risiko, tan-ra lain produk sepatunya dengan mudah ditiru orang lain. Maka, untuk sementara ini, khusus untuk produk sepatu berbahan batik Garut, belum ia pasarkan melalui Facebook. "Produk (sepatu batik Garut) itu, sengaja saya hold, tidak dimasukkan ke Facebook. Pasalnya, sepatu bermotif batik Garut betul-betul disiapkan untuk ditampilkan dalam Inacraft 2011," ucapnya.

Lianna menyadari dia tidak bisa menghambat perkembangan teknologi digital. Untuk mengatasi pcniruan produk, dia menetapkan sejumlah strategi, antara lain dengan membuat web sendiri agar pelanggannya bisa berbelanja secara online.

"Saya juga dituntut untuk lebih kreatif dan agresif dalam mengembangkan produk-produk baru agar peniru tidak bisa mengejar kecepatan kita. Kalau pun dia meniru, maka barang yang ditirunya sudah ketinggalan model alias basi," ujar Lianna menyebut salah satu kiatnya mengatasi persaingan tidak sehat itu.

Setelah sukses memasarkan sepatusecara online, karena tuntutan konsumen, Lianna mulai melirik memasarkan produk-produknya secara offline. "Di sini kamu mulai tertarik ikut bazar-bazar," ucap Lianna yang suaminya juga seorang pengusaha di bidang produksi makanan. Seperti mengikuti pameran hasil kerajinan di Inacraft 2011.

Setelah sukses di pameran kerajinan Inacraft 2011, Lianna Gunawan ketagihan mengikuti berbagai pameran. Misalnya, ia mengikuti pameran Gelar Sepatu Kulit dan Fashion di Jakarta Convention Center, pada akhir April lalu. Harga jual yang dipatok untuk produk sepatunya berkisar Rp 225.000-Rp 295.000 per pasang.

Di masa depan, Lianna akan tetap mengangkat motif Indonesia dalam setiap produk sepatu yang dibuatnya. Misalnya, dalam waktu dekat ini, ia akan memakai barik Sulawesi dalam setiap rancangan sepatunya. Ia optimis, produk yang menggali budaya Indonesia akan disukai konsumen.
ReadFull Article ..

Wednesday, December 11, 2013

Kendala dan Hambatan dalam Bisnis Waralaba


Bisnis waralaba telah mengalami perkembangan dalam berbagai jenis. Namun di Indonesia, waralaba masih identik dengan produk makanan dan minuman. Bagi calon pengusaha muda, bisnis waralaba merupakan cara mudah untuk belajar bisnis. Dengan menjadi (ikut) waralaba atau franchisee, maka ia akan mendapat bimbingan dari pewaralaba (franchisor) tentang kiat dan usaha membangun kerajaan bisnisnya. Namun dengan modal yang telah ia berikan ke pewaralaba dan berbagai bimbingan yang telah dilakukan oleh pewaralaba secara intensif, tidak menjamin bisnis yang ia (franchisee) lakukan akan menemui keberhasilan. Berbagai faktor yang menyebabkan seorang franchisee menemui kegagalan dalam bisnis waralaba, antara lain:

contoh waralaba lokal
Contoh Waralaba Makanan

1. Penyerahan modal yang cukup tinggi
Agar anda bisa ikut usaha dalam waralaba pada produk tertentu, anda harus menyerahkan modal awal agar anda memiliki hak menggunakan nama produk pewaralaba dan mendapatkan bantuan alat dan bimbingannya. Terkadang modal yang harus diserahkan dirasakan cukup tinggi, terutama waralaba dari luar negeri. Misalnya McDonald’s mensyaratkan para franchisee harus memberikan deposit modal sekitar 405 juta rupiah untuk memegang hak (izin) memproduksi produk McDonald’s delama 20 tahun. Maka untuk menjalankan produksi restaurant cepat saji McDonald’s memerlukan dana sekitar 1 milyar lebih, baik untuk penyedian lokasi, gedung, bahan baku dan karyawan. Namun waralaba lokal biayanya lebih murah. Selain itu, ada beberapa waralaba yang dalam perjanjian kontraknya meminta sekian persen dari keuntungan / omzet yang telah diperoleh franchisee tiap tahunnya.

2. Biaya bahan baku yang lebih mahal
Biasanya, para pewaralaba menyediakan suplaier bahan baku bagi para franchisee untuk memproduksi produknya. Mereka beralasan bahan baku dari suplaier yang telah diajak bekerjasama oleh franchisor telah memenuhi standar mutu. Sehingga harga bahan bakunya pun agak lebih mahal dari harga pasar. Padahal dari kerjasama dengan suplaier tersebut, pewaralaba juga mendapatkan komisi. Dengan demikian margin keuntungan yang diperoleh oleh franchisee menjadi lebih kecil.

3. Modal usaha yang tidak mencukupi
Beberapa pewaralaba menyediakan opsi menarik untuk para calon franchisee untuk bergabung dalam bisnisnya, yaitu memberikan opsi cicilan dana dan suplai bahan bagi franchisee yang kekurangan modal. Namun, umumnya para franchisor tidak mau terlibat dalam penyediaan dana bagi para franchisee yang kekurangan modal, sehingga franchisee harus berusaha sendiri mencari tambahan modal. Pada masa paceklik tersebutlah, para franchisee harus gulung tikar di tengah jalan.

4. Pengaturan lokasi franchise yang tidak baik
Para pewaralaba yang mempertimbangkan strategi lokasi, biasanya hanya mengizinkan suatu perwakilan waralaba pada jarak/radius tertentu. Namun, tak sedikit pewaralaba yang mengizinkan berdirinya puluhan waralaba dalam satu lokasi (kota) dengan harapan ia mendapatkan keuntungan lebih dari modal yang disetor para franchisee. Hal ini sangat tidak bagus, karena para franchisee harus saling bersaing dengan merek dan produk yang sama dalam satu lokasi (radius tertentu). Misalnya dalam satu kota terdapat hingga 10 gerai restaurant cepat saji dengan produk yang sama.

5. Kreatifitas yang terbatas
Dalam bisnis waralaba, biasanya franchisor mengharuskan para franchisee menggunakan assesoris yang seragam pada tempat usahanya, baik menyangkut warna tempat, papan reklame, pernak-pernik, dan asesoris lainnya. Sehingga daya kreatifitas yang ingin dikembangkan oleh franchise menjadi terbatas untuk menarik para konsumen. Hal tersebut menjadi nilai negatif bagi wirausahawan yang mempunyai kreatifitas tinggi bagi tempat usahanya.


6. Penentuan lokasi yang kurang tepat
Salah satu kunci keberhasilan dalam membangun suatu bisnis adalah memilih lokasi yang tepat. Hal tersebut juga berlaku dalam berbisnis waralaba. Dalam menentukan lokasi  yang akan dijadikan sebagai tempat usaha waralaba, ada baiknya melakukan riset kecil-kecilan, baik yang menyangkut keramaian lokasi, minat warga sekitar akan produk yang akan anda jual, jumlah saingan usaha pada produk yang sejenis, dan juga kondisi ekonomi yang tengah dialami oleh masyarakat setempat. Jika simpulan anda tentang lokasi tersebut ternyata berprospek menjanjikan, maka segera lakukan action!

7. Kebangkrutan pewaralaba
Apa yang ada di dalam benak anda jika induk bisnis anda ternyata mengalami kebangkrutan disaat usaha anda sedang mangalami kemajuan. Maka anda harus berjuang sendiri tanpa lagi mendapat bantuan dan bimbingan dari franchisor. Hal tersebut akan memberikan tekanan batin dan ketakuatan dalam diri. Hal yang sama juga terjadi ketika rekan bisnis anda (waralaba sama) yang berada di lokasi lain ternyata gulung tikar, sehingga memunculkan keresahan, “Mampukah saya bertahan?”.

Itulah beberapa hambatan dan kendala dalam memulai bisnis waralaba. Memang banyak kekurangan yang harus dihadapi dalam konsep bisnis ini. Namun tak sedikit pengusaha muda yang sukses dalam bisnis waralaba dengan beraneka jenis yang mereka pilih.
ReadFull Article ..

Tuesday, November 5, 2013

Cara Menulis Proposal Bisnis


Cara Menulis Proposal Bisnis
Cara Menulis Proposal Bisnis

Cara Menulis Proposal Bisnis, Anda memiliki ide yang bagus untuk memulai sebuah produk atau jasa baru. Sebelum perusahaan bank atau investasi akan menyutujui untuk meminjamkan uang, anda pasti akan memerlukan untuk menyusun dan cara menulis proposal bisnis yang solid.
Ikuti langkah-langkah cara menulis proposal bisnis yang relatif sederhana untuk mendapatkan sebuah jalan untuk membangun dan mengembangkan produk Anda dan membuat impian Anda menjadi kenyataan dalam usaha.
Cara Menulis Proposal Bisnis
  1. Bicara dengan seseorang yang telah mencoba membuat atau menulis beberapa proposal bisnis. Tanyakan apa yang berhasil dan apa yang tidak.
  2. Garis proposal terdiri dari dua bagian. Bagian pertama akan menjelaskan peluang bisnis dan Anda berencana untuk mengambil keuntungan dari itu. Yang kedua akan menyajikan data keuangan – pajak, neraca dan ringkasan dari rencana operasi Anda.
  3. Penulisan cara menulis proposal bisnis, Batasi bagian pertama untuk 10 halaman. Buatlah ringkas dan jelas, ketika menjelaskan tentang peluang pasar, dan mengutip sumber-sumber.
  4. Jelaskan apa yang membuat Anda dan perusahaan anda berbeda dari pesaing. Misalnya mungkin Anda memiliki keterampilan khusus dan pengalaman, anda mungkin memiliki teknologi baru termasuk di dalam cara menulis proposal bisnis, Bicarakan tentang prestasi Anda di industri.
  5. Menggambarkan segmen pasar yang anda kejar. Diskusikan apa yang akan Anda lakukan untuk merebut pangsa pasar dari pesaing.
  6. Identifikasi calon pelanggan. Jelaskan mengapa Anda menargetkan mereka.
  7. Meringkas rencana pemasaran Anda, berikan rincian, tetapi singkat.
  8. Diskusikan setiap masalah tentang peraturan perusahaan Anda.
  9. Identifikasi tim manajemen. Siapa sajakah orang di perusahaan anda? Berikan sketsa biografi singkat.
  10. Jelaskan harapan Anda mengenai pendapatan dan arus kas untuk tahun pertama. cara menulis proposal bisnis juga dengan mendiskusikan bagaimana banyaknya keuangan yang  akan anda butuhkan untuk memulai, bagaimana akan digunakan, dan di mana Anda berencana untuk mendapatkannya.
ReadFull Article ..